Traveling: Perjalanan Jalur Sungai yang Menyenangkan di Pedalaman Sumatera

Gambar sebelah kiri, suasana perjalanan menelusuri pedalaman Sumatera di Nagari Muaro Sei Lolo dan Kanan Suasana Perkampungan Minang di Batang Kali-Sungai Masin-Ulu Selangor Malaysia
Gambar sebelah kiri, suasana perjalanan menelusuri pedalaman Sumatera di Nagari Muaro Sei Lolo dan Kanan Suasana Perkampungan Minang di Batang Kali-Sungai Masin-Ulu Selangor Malaysia

Sumatera dikenal dengan hutan tropisnya yang lebat, pegunungan yang menjulang, dan budaya yang kaya. Namun, ada satu pesona yang sering terlewatkan oleh wisatawan: jalur sungai di pedalaman Sumatera. Perjalanan menyusuri sungai bukan sekadar transportasi, tetapi juga pengalaman wisata yang unik, penuh kejutan, dan sarat petualangan.

Pada abad 21 ini kita tidak menyangka bahwa ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang masih eksis di pedalaman hutan Sumatera. Sebuah perjalanan sungai rute jalur perdagangan lama antara daerah yang sekarang di namakan dengan Pasaman menuju 50 Kota dan Kampar Riau. Rute ini dahulunya adalah mobilitas barang dari Pantai Timur Sumatera dan Semenanjung Malaya menuju Pedalaman Sumatera. Tak heran kemudian daerah ini masih memiliki hubungan kultural dan ekonomi dengan Semenanjung Malaysia. Seperti hubungan Sungai Masin-Batang kali Selangor dengan Nagari Muaro Sei Lolo Pasaman Sumatera Barat. Setiap tahun penduduk ke dua pulau masih saling mengunjungi. Orang Nagari dan Orang rantau. Tak di pungkiri sungai menjadi sarana transportasi yang utama di Nagari ini. Ketika melewati Sungai Di sepanjang tepian sungai, pepohonan raksasa menjulang seakan menjadi pagar hijau alami. Dahan-dahan besar menjuntai, beberapa condong ke arah air, seolah ingin menyentuh aliran sungai yang terus berlari. Daun-daun yang lebat menebarkan kesejukan, dan di sela-sela rimbunnya hutan tropis itu, sesekali tampak burung kecil dan burung yang agak besar seperti Enggang berterbangan, hinggap di ranting bambu atau bertengger di pucuk pohon. Dan Enggang hinggap di dahan yang kokoh dan terkadang terlihat enggang hinggap di batang pohon yang ada lobangnya, mungkin disana mereka bertelur, dan memberi makan anaknya yang masih bayi. Suaranya bersahut-sahutan, berpadu dengan gemericik air yang membelah arus, menciptakan harmoni alam yang menenangkan itu lah suasana perjalanan yang mengesankan dari Gelugur hingga ke Pertemuan di Muaro Sei Lolo.

Hulu Sungai kampar merupakan Wilayah adat Pucuk Adat Tuanku Bandaro dengan para penghulu suku yang telah mendapatkan pembagian yang sepandan dengan peruntukan suku dan kaum. Untuk mengunjungi jorong-jorong di Nagari Muaro Sei Lolo sebagian penduduk masih menggunakan perahu bermesinkan 8-15 PK. Ditepi sungai ditumbuhi dengan tanaman perkebunan masyarakat dan kayu primer yang masih menjulang Tinggi.

Advertisement
POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Tingginya ketergantungan manusia dengan alam, membuat penggunaan tanah lereng meningkat tajam, akhir-akhir ini, apa lagi harga komoditas gambir menjulang tinggi di pasar global. Semakin banyak warga mengganti pohon-pohon karet mereka dengan tanaman gambir. Sehingga terlihat air begitu cepat menguning pada musim hujan.

Perjalanan melalui rute ini tidak hanya sekedar menikmati alam yang masih alami, dikanan, kiri sungai yang terkadang kita lihat air terjun kecil yang indah. namun juga kita bisa mengunjungi sisa-sisa masa lalu dengan adat dan budaya minangkabau. Kita bisa melihat bukti kehidupan masa lalu yang tergambar dalam keseharian masyarakat pedalaman Minangkabau yang menunjukkan keharmonisan manusia dengan alam dan rasa syukur mereka dengan hamparan alam yang indah. Mereka menggunakan alam secara wajar, dengan pola Ladang berpindah dengan tidak menggunakan pupuk kimiawi, atau dengan model ba-parak dengan membuat ekosistem kebun, pohon, sungai, dan binatang sekitar ladang.

Sampan, batu, rumah-rumah panggung di pinggiran sungai menggambarkan catatan masa lalu yang mengesankan. Interaksi daerah, komunikasi yang harmonis antar daerah menghasilkan pertukaran yang seimbang dalam sebuah tata niaga dan perdagangan antar daerah yang berjaya pada itu. Kini Sisa-sisa kejayaan masih terlihat walaupun sedikit sudah tergerus oleh adanya jalan darat yang masih bersusun antara tanah, pasir dan batu kerikil dan sebagian berlubang karena tekanan roda mobil dan truk yang melewati Jalan. Masih sedikit petinggi politik yang peduli dalam pengembangan kawasan ini, entah kenapa bisa jadi pertukaran suara dengan wakilnya sudah sah terjadi sebelum pemilihan dilakukan sehingga komitmen politisi dengan daerah ini masih longgar dan sedikit terabaikan. Jika lah ada Jembatan yang menghubungkan antara kampung Koto Tongah dengan Nagari Muaro Sei Lolo daerah ini makin mudah di akses. Tapi dengan perjalanan sungai yang mengesankan ini membuat kita betah pada zaman ini, biarlah begini asal daerah ini tidak menjadi daerah eksploitasi bebatuan. Daerah ini merupakan daerah penyanggah PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air Koto Panjang) dan lebih dari 40% kebutuhan air diperoleh dari hutan hujan di wilayah Nagari Muaro Sei Lolo. (Yh)

Editor : Yulhendri
BANNER 3
Bagikan

Berita Terkait
BANNER-4
Terkini