Padusi di Rumah Gadang, Tema Festival Pamenan Minangkabau 2 di Padang Panjang

Ilustrasi (Ig:@pamenanminangkabau)
Ilustrasi (Ig:@pamenanminangkabau)

FESTIVAL Pamenan Minangkabau (FPM) #2 bakal diadakan di Kota Sejuk Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu dan Minngu tanggal 26 sampai 27 Juli 2024.

Afrizal Harun, Direktur Festival Festival Pamenan Minangkabau #2 mengatakan, kegiatan ini dilakukan Komunitas Seni Hitam-Putih, Padang Panjang, Sumatera Barat. Dimana Komunitas Seni Hitam-Putih ini di tahun 2024 memperoleh dukungan dana hibah dari program Dana Indonesiana-LPDP, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Hibah ini dimanfaatkan untuk menyelenggarakan Festival Pamenan Minangkabau (FPM) #2, sebuah kegiatan pemanfaatan ruang publik berbasis tradisi, yang tahun ini mengusung tema “Padusi di Rumah Gadang”.

Dilejaskan Afrizal Harun, festival budaya ini akan digelar selama dua hari ini, bertempat di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang—sebuah situs penting yang sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Sumatera Barat. Sebelumnya, digelar pra-FPM #2 dengan baragam kegiatan literasi dan permainan tradisi Minangkabau. Selain itu, kawasan budaya ini merupakan salah satu program unggulan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis-Alex Saputra, yakni revitalisasi PDIKM.

Bagi Komunitas Seni Hitam-Putih, penyelenggaraan festival ini merupakan langkah baru sekaligus tantangan tersendiri. Pada tahun 2022, komunitas ini pertama kali mengikuti kompetisi Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui skema Dana Abadi Kebudayaan. Saat itu, Festival Pamenan Minangkabau #1 sukses digelar di Istano Silinduang Bulan, Kabupaten Tanah Datar, dengan tema “Inspirasi Rumah Gadang”.

Dalam perhelatan perdana tersebut, rumah gadang tidak hanya dimaknai sebagai bangunan tradisional berarsitektur khas, melainkan juga sebagai simbol sentral budaya Minangkabau—tempat bertemunya nilai-nilai kebersamaan, musyawarah, serta penghormatan terhadap perempuan, terutama peran Bundo Kanduang sebagai tiang penyangga adat.

Festival ini merangkum tiga dimensi utama kebudayaan Minangkabau: bahasa (Pamenan Kato), visual (Pamenan Mato), dan bunyi atau auditif (Pamenan Talingo). Konsep tersebut diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti pertunjukan seni, pameran arsip budaya, pemutaran film, permainan tradisional, hingga diskusi kebudayaan. Sambutan masyarakat terhadap FPM #1 sangat positif, memberikan semangat baru bagi komunitas dalam membangun ekosistem budaya yang partisipatif dan berkelanjutan.

Berangkat dari semangat yang sama, Festival Pamenan Minangkabau yang kedua kembali digelar tahun ini, dengan tema “Padusi di Rumah Gadang”. Rumah gadang sekali lagi ditegaskan sebagai ruang publik, bukan sekadar bangunan fisik, tetapi sebagai arena dialog, ekspresi, dan perjumpaan antarwarga dalam merawat ingatan kolektif serta mewariskan nilai-nilai budaya Minangkabau di tengah derasnya arus perubahan.

Tema tahun ini merupakan bentuk penghormatan terhadap eksistensi perempuan Minangkabau—para padusi—yang menjadi penjaga nilai-nilai adat, budaya, norma sosial, dan sistem kekerabatan matrilineal. Keistimewaan edisi kedua ini terletak pada keterlibatan aktif perempuan dalam festival, baik sebagai pencipta maupun pelaku seni. Para padusi tampil sebagai sutradara, koreografer, komposer, perupa, serta pelaku dalam seni-seni tradisional.

Pelaksanaan Festival Pamenan Minangkabau #2 tahun 2025 membawa suasana yang berbeda dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun 2022. Tahun ini, Komunitas Seni Hitam-Putih menggandeng Pemerintah Kota Padang Panjang untuk berkolaborasi lebih luas, khususnya bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berperan aktif dalam mendukung dan menyukseskan kegiatan festival.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang turut memeriahkan festival melalui penyelenggaraan Festival Literasi. Kegiatan ini mencakup Gelar Wicara Literasi, Lomba Mewarnai untuk anak-anak, dan Lomba Baca Puisi, yang semuanya melibatkan partisipasi masyarakat, terutama pelajar. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) hadir dengan kegiatan Edukasi Mitigasi Sampah sebagai bentuk kontribusi dalam memperkuat kesadaran lingkungan selama festival berlangsung.

Sementara itu, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata memberikan dukungan berupa pemanfaatan PDIKM sebagai lokasi utama festival, yang menjadi titik temu para seniman, komunitas, dan warga. Dalam bidang publikasi dan promosi, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berperan penting dalam menyebarluaskan informasi tentang festival melalui berbagai kanal, termasuk media sosial, baliho, serta videotron LED outdoor di ruang-ruang publik Kota Padang Panjang. Tak kalah penting, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan turut serta mendorong keterlibatan aktif pihak sekolah—baik guru maupun siswa—untuk hadir dan menyemarakkan kegiatan festival ini.

Selain dengan OPD, Festival Pamenan Minangkabau #2 bersinergi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat. Kolaborasi ini diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan atraksi permainan tradisional Minangkabau, sebagai salah satu upaya pelestarian kebudayaan lokal yang mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Festival tahun ini dimeriahkan oleh dua puluh kelompok dan komunitas seni dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Mereka datang dari Padang Panjang, Padang, Bukittinggi, hingga Lima Puluh Kota, dan menampilkan beragam bentuk ekspresi seni—baik kontemporer maupun tradisional—yang memperkuat semangat kebersamaan, kreativitas, dan pelestarian budaya.

Mereka menghadirkan pertunjukan teater, tari, dan musik, menampilkan seni rupa, kriya, serta seni partisipatif yang berakar pada narasi-narasi lokal dan persoalan kekinian. 20 penampil itu adalah (1) Komunitas Marakik Aso (Padang Panjang); (2) Paninjauan Saiyo (Padang Panjang); (3) Diafora (Padang Panjang); (4) Terkenal Ansamble (Padang Panjang); (5) Qitara Handicraft (Padang Panjang); (6) Pituah Aguang (Padang Panjang); (7) Show D Dance Theater (Padang); (8) Grup Lansia Kampuang Sarugo (Lima Puluh Kota); (9) Cuqa Band (Padang Panjang); (10) Sanggar Seni Aguang (Padang Panjang); (11) Lab Art Project (Padang Panjang); (12) Ragam Raso (Padang Panjang); (13) Sanggar Alang Bangkeh (Padang Panjang); (14) Teater ASA (Padang Panjang); (15) Ruang Belajar Bintang Harau (Lima Puluh Kota); (16) Sibat Dance Theater (Padang); (17) Sanggar Seni Aguang (Padang Panjang); (18) Kata Gerak (Padang); (19) Sanggar Saandiko (Bukittinggi); dan (20) Jingler Queen (Padang Panjang).

Di samping pertunjukan seni, Festival Pamenan Minangkabau #2 juga menyelenggarakan pameran arsip teater yang dikemas dalam format transmedia art. Pameran ini menampilkan dokumentasi naskah drama, foto-foto pertunjukan, dan rekaman video dari karya-karya teater yang pernah dipentaskan oleh kelompok-kelompok di Sumatera Barat, yang metupakan ruang pamer sekaligus ruang interaksi pengunjung dengan khazanah teater lokal.

Festival ini juga menyelenggarakan Halakah Budaya bertema “Perempuan Minangkabau: Dulu, Kini, dan Akan Datang.” Dalam forum ini, hadir narasumber dari kalangan akademisi seperti Prof. Dr. Dra. Silvia Rosa, M. Hum dan Dr. Sri Setiawati, S.S., M.A dari Universitas Andalas, serta Elvira, S.Ip., M.Hum dari Universitas Islam Negeri Bukittinggi. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Nasrul Azwar. Diskusi kepompok terpumpun (DKT) ini merupakan ruang penting dalam merefleksikan posisi serta peran perempuan Minangkabau dalam lintasan sejarah hingga hari ini.

Selain itu, festival juga menggelar lokakarya peningkatan kapasitas dengan tema “Festival: Keberlanjutan dan Jejaring Ekonomi Kreatif.” Narasumber dalam kegiatan ini adalah Mellya Fitri (Creative Worker & Inovator), dan Koordinator Jejaring III Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Korda Sumatera Barat, yang membagikan pengalaman mengenai strategi pengelolaan festival dan penguatan jaringan komunitas. Lokakarya ini dimoderatori oleh Ubaidillah Al Anshori, seorang penyair yang juga aktif dalam kegiatan komunitas seni dan budaya.

Secara keseluruhan, Festival Pamenan Minangkabau #2 menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan beragam pihak untuk merayakan dan mengembangkan kekayaan budaya Minangkabau. Melalui dukungan pemerintah, pelibatan komunitas, keterlibatan aktif perempuan, serta pembaruan dalam bentuk pertunjukan dan diskusi, festival ini menghadirkan dinamika baru dalam pemanfaatan rumah gadang sebagai ruang publik yang hidup dan penuh makna.

Komunitas Seni Hitam-Putih sendiri merupakan komunitas seni nirlaba yang berfokus pada pengembangan seni dan budaya, terutama teater. Didirikan pada 31 Oktober 1997 oleh Yusril Katil, Almudazir, Pandu Birowo, dan kawan-kawan, komunitas ini lahir bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-71 Ruang Pendidik INS Kayutanam. Semangat kelahirannya berakar dari Teater Plus INS Kayutanam, sebuah kelompok teater pelajar yang menjadi laboratorium kreatif untuk eksplorasi teater berbasis naskah dan ketubuhan.

Beberapa karya awal seperti Ring, Anggun Nan Tongga, dan Perguruan (naskah Wisran Hadi) menjadi fondasi eksplorasi dramatik mereka, sementara karya Interne dan Menunggu merupakan hasil pendekatan ketubuhan. Meskipun berakar di INS Kayutanam, komunitas ini kemudian menetap di Padang Panjang dan menjadi bagian dari denyut kreatif kota tersebut. Sebagian besar anggotanya adalah dosen, mahasiswa, dan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.

Dalam perjalanannya, Komunitas Seni Hitam-Putih telah tampil di berbagai ajang nasional dan internasional, antara lain Temu Teater Indonesia di Pekanbaru, Temu Sastrawan Nusantara ke-IX, The 6th Theatre Olympics di Beijing (2014), TheatreWorks Singapura (2016), Borobudur and Cultural Festival (2018), dan Ciputra Artpreneur Jakarta (2022) dengan karya Under The Volcano. Mereka juga pernah mengadakan tur pertunjukan melalui program hibah Yayasan Kelola dengan karya Tangga yang dipentaskan di berbagai kota besar.

"Sebagai Direktur Festival sekaligus Direktur Program Komunitas Seni Hitam-Putih, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Balai Pelestarian Kebudayaan III Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang Panjang beserta OPD dan lembaga pendukung, organisasi adat dan budaya, serta para pelaku seni yang telah memperkaya festival ini. Teristimewa, saya ucapkan rasa hormat dan bangga kepada seluruh panitia Festival Pamenan Minangkabau #2 yang telah bekerja dengan penuh dedikasi dan semangat kolaborasi," kata Afrizal.

Semoga festival ini menjadi ruang temu yang bermakna, memperkuat keberlanjutan kebudayaan Minangkabau, serta membuka cakrawala baru bagi masyarakat dalam memaknai tradisi di tengah dunia yang terus bergerak. (MR)

Editor : Marjeni Rokcalva
BANNER 3
Bagikan

Berita Terkait
BANNER-4
Terkini