INDONESIA merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya dan tradisi. Setiap daerah memiliki kekhasan budayanya sendiri yang tercermin dalam berbagai adat istiadat, salah satunya adalah Minangkabau yang terkenal dengan budaya matrilineal dan tradisi pernikahannya.
Tradisi pernikahan Minangkabau tidak hanya sebagai upacara seremonial (teratur atau formal), tetapi juga sarat dengan nilai-nilai filosofis dan sosial. Salah satu tradisi pernikahan yang penting adalah marapulai basuntiang, sebuah prosesi yang melibatkan pengantin pria dalam mengenakan suntiang, sebuah mahkota khas Minangkabau yang biasanya digunakan oleh pengantin wanita.
Marapulai basuntiang bukan hanya sekadar simbol kebanggaan, tetapi juga mencerminkan identitas budaya yang kuat. Dalam prosesi ini, pengantin pria mengenakan suntiang yang dihiasi dengan ornamen emas atau kuningan, yang melambangkan kekayaan dan kemakmuran.
Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi dan dianggap sakral oleh masyarakat Minangkabau Nagari Tigo Sungai Inderapura.
Nagari Tigo Sungai aInderapura, yang terletak di Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, adalah salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi marapulai basuntiang. Nagari ini dikenal dengan komunitas yang kuat dan kental dengan adat istiadat Minangkabau. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh modernisasi, tradisi-tradisi lokal termasuk marapulai basuntiang menghadapi tantangan dalam pelestariannya.
Marapulai adalah sebutan untuk pengantin laki-laki dalam adat Minangkabau. Sedangkan suntiang biasanya dikenal sebagai hiasan kepala pengantin perempuan. Namun di beberapa daerah, termasuk di Inderapura, pengantin laki-laki juga memakai hiasan tertentu sebagai simbol kebesaran adat. Tradisi inilah yang disebut marapulai basuntiang.
Bagi masyarakat Inderapura, suntiang yang dipakai marapulai bukan sekadar hiasan. Di balik bentuk dan cara pemakaiannya terdapat makna mendalam. Suntiang melambangkan kehormatan, tanggung jawab, dan kesiapan seorang laki-laki untuk menjadi kepala keluarga. Ketika seorang marapulai memakai suntiang, masyarakat melihat bahwa ia telah siap menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh tanggung jawab.
Pelaksanaan marapulai basuntiang biasanya dilakukan saat acara baralek atau pesta pernikahan. Sebelum acara dimulai, marapulai dipersiapkan oleh keluarga dengan pakaian adat lengkap. Busana yang digunakan umumnya berupa baju penghulu atau pakaian adat khas Minangkabau yang dipadukan dengan kain songket dan penutup kepala adat. Penampilan marapulai terlihat gagah dan berwibawa sehingga menjadi pusat perhatian dalam acara tersebut.
Saat marapulai datang ke rumah anak daro atau pengantin perempuan, penyambutan dilakukan secara adat. Keluarga perempuan menyambut dengan penuh hormat karena marapulai dianggap sebagai tamu istimewa. Dalam adat Minangkabau, pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan karena sistem kekerabatan Minangkabau menganut garis keturunan ibu. Oleh sebab itu, marapulai harus menunjukkan sikap sopan, santun, dan menghormati keluarga istrinya.
Tradisi marapulai basuntiang juga menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan di tengah masyarakat Inderapura. Acara pernikahan biasanya melibatkan banyak orang, mulai dari keluarga, tetangga, hingga pemuda kampung. Mereka saling membantu mempersiapkan kebutuhan pesta seperti memasak, mendirikan tenda, hingga menyambut tamu. Semangat gotong royong ini masih terasa kuat di Kecamatan Pancung Soal.
Selain memiliki nilai adat, marapulai basuntiang juga menjadi daya tarik budaya. Banyak orang dari luar daerah tertarik melihat prosesi pernikahan adat Minangkabau karena busananya yang indah dan tata acaranya yang khas. Tidak sedikit tamu yang mengabadikan momen ketika marapulai memakai pakaian adat lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki nilai seni yang tinggi dan patut dilestarikan.
Orang tua di Inderapura juga memiliki peran penting dalam menjaga tradisi ini. Mereka mengajarkan tata cara adat kepada anak-anak sejak kecil. Ketika ada acara pernikahan, generasi muda dilibatkan agar memahami proses adat yang sebenarnya. Dengan cara ini, pengetahuan tentang marapulai basuntiang dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, adat memiliki hubungan yang erat dengan agama. Filosofi yang terkenal adalah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Artinya adat didasarkan pada ajaran agama Islam. Oleh karena itu, pelaksanaan pernikahan adat di Inderapura tetap mengikuti aturan agama, seperti akad nikah dan doa bersama. Tradisi adat dan nilai agama berjalan seimbang dalam kehidupan masyarakat.
Marapulai basuntiang juga memiliki makna sosial yang penting. Seorang laki-laki yang telah menikah dianggap sudah dewasa dan siap menjalankan tanggung jawab dalam keluarga maupun masyarakat. Ia diharapkan mampu menjaga nama baik keluarga serta menjadi contoh yang baik di lingkungan sekitar. Karena itu, prosesi adat tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mengandung nasihat kehidupan.
Bagi masyarakat Inderapura, mempertahankan tradisi bukan berarti menolak kemajuan zaman. Mereka tetap menerima perkembangan teknologi dan perubahan sosial, namun budaya daerah tetap dijaga.
Banyak anak muda yang kini mulai bangga memakai pakaian adat dalam acara pernikahan. Bahkan beberapa di antaranya membagikan foto dan video prosesi adat melalui media sosial sehingga budaya lokal semakin dikenal luas.
Keindahan tradisi marapulai basuntiang juga terlihat dari detail pakaian adat yang digunakan. Warna pakaian biasanya didominasi warna emas, merah, dan hitam yang melambangkan keberanian, kebesaran, dan kehormatan. Hiasan pada pakaian dibuat dengan motif khas Minangkabau yang memiliki nilai seni tinggi. Semua perlengkapan adat tersebut dipersiapkan dengan penuh perhatian agar acara berlangsung dengan baik.
Selain itu, musik tradisional juga sering mengiringi prosesi adat. Bunyi talempong dan gandang menambah suasana meriah dalam pesta pernikahan. Musik tradisional tersebut menjadi identitas budaya Minangkabau yang masih dipertahankan hingga sekarang. Kehadiran musik adat membuat suasana pesta terasa lebih hangat dan penuh kekeluargaan.
Tradisi marapulai basuntiang di Inderapura merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Pesisir Selatan. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari acara pernikahan, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakat setempat. Nilai kebersamaan, penghormatan kepada adat, dan rasa tanggung jawab tercermin dalam setiap prosesinya.
Tradisi Marapulai Basuntiang ini dimulai dari kedatangan raja dari kerajaan majapahit yang bernama Raja Adityawarman yang datang ke Inderapura dengan pasukannya untuk menguasai sumber daya alam yang ada di inderapura serta ingin menguasai wilayah inderapura. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh masyarakat inderapura, bukannya takut atau cemas masyarakat inderapura malah menyambut raja itu dengan tarian yang dibawakan oleh anak daro yang memakai suntiang dan pakaian adat anak daro yang cantik dan mengandung nilai adat yang kental.
Melihat keanggunan dan kecantikan paras anak daro, raja Adityawarman jatuh hati pada salah satu anak daro yang menari itu. Raja Adityawarman menggurung niat nya untuk berperang dan ingin menikahi anak daro itu untuk menjadi istrinya. Para niniak mamak orang minangkabau sangat cerdas dan matang dalam menggambil setiap keputusan.
Niniak mamak memberikan syarat kepada raja Adityawarman, jika ingin menikahi anak daro tersebut maka Adityawarman harus memakai suntiang dan derajatnya harus setara dengan anak daro. Dengan rasa ingin menikahi anak daro yang cantik tadi, Adityawarman rela untuk memakai suntiang sebagai tanda ia menjadi urang sumando di rumah istrinya.
Hingga pada saat sekarang ini tradisi marapulai basuntiang terus dijalankan oleh masyarakat inderapura sebagai tanda keunikan budaya ditenggah tenggah masyarakat inderapura. Meskipun banyak anak muda yang memodifikasi cara dekorasi atau pakaian adat pada upacara pernikahannya,tetapi tidak nengubah makna yang terkandung dari pakaian ataupun simbol simbol tradisi tersebut. (***)
Ada Marapulai Basuntiang di Nagari Tigo Sungai Inderapura Pessel
Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Opini lainnya
Afrimanzo Wanda
Makna Dari Manembak di Ateh Kudo
Makna Dari Manembak di Ateh Kudo
Muhammad Marchendo Androgie
Mahasiswa, Jalanan, dan Politik: Apakah Gerakan Mahasiswa Masih Relevan di Era Demokrasi?
Mahasiswa, Jalanan, dan Politik: Apakah Gerakan Mahasiswa Masih Relevan di Era Demokrasi?

