Gajah Gallery Mempersembahkan Warna Garis, Sebuah Pameran Tunggal dari Tantin Udiantara

Tantin Udiantara, 2025, Acrylic on Canvas, 135 x 180.5cm. Dok. Gajah Gellery
Tantin Udiantara, 2025, Acrylic on Canvas, 135 x 180.5cm. Dok. Gajah Gellery

KontenMinang - Gajah Gallery dengan bangga mempersembahkan Warna Garis, pameran tunggal perdana Tantin Udiantara di Gajah Gallery. Setelah sukses menggelar pameran tunggal di Lugano, Swiss pada akhir 2024 hingga awal 2025, seniman kontemporer asal Bali yang kini berkarya di Yogyakarta ini kembali menyoroti tanah kelahirannya.

Dalam pameran ini, Tantin menggabungkan falsafah-falsafah tradisional Bali dengan pendekatan visual yang kontemporer, menciptakan dialog yang mendalam antara warisan budaya dan ekspresi seni masa kini. Pameran ini akan dilengkapi oleh esai dari Wayan Seriyoga Parta.

“Bagaimana seorang Bali mengekspresikan sesuatu?” Pertanyaan inilah yang menjadi landasan pameran tunggal Tantin Udiantara kali ini. Pengalaman akan kegiatan tradisional dan spiritual yang dilakukan secara sukarela dan kolektif oleh masyarakat Bali, ngayah, membentuk cara pandang khas yang cenderung anti-ego, peleburan dalam entitas kolektif yang unik. Pengalaman ini, yang kuat terasa khususnya di kalangan pemeluk Hindu Bali, sangat sulit untuk diuraikan secara verbal atau disampaikan secara universal karena begitu banyak elemennya yang bersifat tacit, yaitu pengetahuan yang melekat secara mendalam namun sukar dijelaskan. Namun demikian, pengalaman ritual ini melahirkan citra-citra visual yang kaya akan nilai simbolik.

Dalam karya-karya Tantin, bentuk-bentuk dasar seperti garis meliuk, geometri, dan gradasi warna merepresentasikan praxis tersebut tanpa harus tunduk pada batasan kata-kata. Ketelatenan dalam proses pengerjaan setiap karya pun merefleksikan semangat dan makna esensial dari ngayah itu sendiri. Bahkan, untuk menyerap secara lebih mendalam konsep dalam seri terbarunya, Tantin kembali dari Yogyakarta dan menetap cukup lama di Tampaksiring.

Seri karya garisnya yang bermula dari etude visual sketsa garis tak terputus berkembang menjadi sebuah seri yang utuh. Dimulai dengan garis besar yang buram dan lembut; lalu ditambahkan garis-garis spontan yang saling terhubung; lalu beberapa garis-garis terpilih, disorot melalui teknik sigar (pelapisan). Garis-garis ini membentuk dimensi yang lebih besar dan menjadi aksentuasi dalam komposisi dinamis yang berkesinambungan. Garis yang bersambung lalu melahirkan seri selanjutnya yang menampilkan garis-garis yang terlihat putus-putus.

Pameran ini menegaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis atau berulang dalam ritme yang sama. Keberadaannya dalam ruang dan waktu (butha dan kala) bersifat entropik, terus bergerak dan melahirkan bentuk-bentuk baru. Garis-garis putus yang terpisah mencerminkan dinamika kreativitas yang terus berkembang, sebagaimana kehidupan tradisional dalam budaya Bali yang terus bergerak secara dinamis dan berkelanjutan, senantiasa diperbarui oleh masyarakatnya.


Tradisi hidup dalam gerak ruang dan waktu, dan jika diamati lebih dekat, ia tidak pernah benar-benar sama dari waktu ke waktu. Setelah lama mengeksplorasi bentuk visual yang sering diidentifikasi sebagai Pop, dalam pameran ini Tantin "pulang", namun bukan tanpa membawa dan menggabungkan berbagai hal yang telah ia pelajari sebagai seniman kontemporer di Yogyakarta.

MENGENAI SENIMAN


Gusti Ngurah Udiantara (L.1976, Tampaksiring, Bali). Akrab disapa Tantin, Gusti Ngurah Udiantara tumbuh dalam keluarga yang memiliki akar kuat dalam seni tradisional, khususnya seni patung, yang secara tidak langsung membentuk ketertarikannya terhadap dunia seni.
Perjalanan pendidikannya di bidang seni dimulai dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Bali. Setelah lulus dari SMSR pada tahun 1996, Tantin melanjutkan studi seni rupanya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di sinilah ia mulai mengasah kemampuan artistiknya secara lebih mendalam dan mengembangkan identitas seninya yang khas.


Sejak masa kuliah di ISI Yogyakarta, Tantin menunjukkan aktivitas yang menonjol dalam dunia seni rupa. Ia secara rutin berpartisipasi dalam berbagai pameran, baik pameran kelompok bersama seniman lainnya maupun pameran tunggal. Partisipasinya dalam pameran tidak terbatas pada skala nasional, tetapi juga internasional, menunjukkan dedikasi dan pengakuan terhadap karyanya sejak dini.

Advertisement
POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten

Beberapa pameran terbarunya antara lain: Unfolding Infinity, Primo Marella Gallery, Italia (2025); Distrik Seni x Sarinah: Berkelanjutan, Distrik Seni, Jakarta (2022); Upwind owntempo, Gajah Gallery, Yogyakarta (2021); Abstract vs Optical, Primo Marella Gallery, Milan, Italia (2020); Artjog: Resilience, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (2020); Yogya Annual Art: Incumbent, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia (2019); dan Artjog: Enlightenment, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (2018).

MENGENAI GAJAH GALLERY


Didirikan pada tahun 1996, Gajah Gallery tetap menjadi ujung tombak seni regional dengan pameran-pameran yang dikuratori oleh akademisi dan sejarawan seni terkemuka di bidangnya. Setelah membuka lokasi ke tiga di ibu kota Indonesia, program galeri dilangsungkan di tiga lokasi (Singapura, Yogyakarta, dan Jakarta) dimana ruang-ruang seni tersebut terus mendukung dengan relevan kekaryaan seniman melalui jadwal pameran rutin di setiap tahunnya, termasuk dengan mengenalkan seniman dan karya-karyanya ke platform regional dan internasional berkaliber tertinggi.


Selama beberapa tahun terakhir, Gajah Gallery telah menghidupkan kembali kontribusi akademik untuk kategori seni dan sejarah Asia Tenggara. Gajah Gallery telah mengadakan pameran penting seperti 5th Passage: In Search of Lost Time; I GAK Murniasih: Shards of My Dreams That Remain in My Consciousness; Heresy or Codswallop, Pameran Tunggal Ashley Bickerton; Semsar Siahaan: Art, Liberation; Lokanat: Ground Zero; dan Intersections: Latin American and Southeast Asian Contemporary Art, serta mendukung produksi publikasi cetak ekstensif tentang seniman penting Indonesia, melalui peluncuran Yunizar: New Perspective.
Lebih dari itu, Gajah Gallery telah bekerjasama dengan beberapa institusi Asia Tenggara seperti pameran Yunizar dan Jendela Art Group di National University of Singapore (NUS) Museum pada tahun 2007 & 2009, dan pameran bersama Srihadi Soedarsono dengan Chua Ek Kay di Singapore Art Museum di 2005. (Rel/KM)

Editor : Marjeni Rokcalva
BANNER 3
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
BANNER-4
Terkini