Asal Usul Tabuik Piaman, Mengenang Sejarah Wafatnya Seidina Husain Cucu Nabi

Dua Tabuik beradu jelang dibuang ke laut di Minggu (6/7/2025) di Pantai Gandoriah Kota Pariamanan bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H. Foto: Kominfo Kota Pariaman
Dua Tabuik beradu jelang dibuang ke laut di Minggu (6/7/2025) di Pantai Gandoriah Kota Pariamanan bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H. Foto: Kominfo Kota Pariaman

PARIAMAN - Pesta Tabuik di Kota Pariaman yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Hoyak Tabuik Piaman, merupakan tradisi budaya turun temurun yang dilakukan dari tanggal 1 hingga 10 Muharram setiap tahunnya.

Dalam pesta ini ada dua Tabuik yang dihoyak (digoyang-goyang) sampai dia dibuang ke laut bersama-sama di Pantai Gandoriah Kota Pariamanan. Kedua Tabuik ini, yakni Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa.

Tahun ini, puncak Hoyak Tabuik dilaksanakan Minggu (6/7/2025) di Pantai Gandoriah Kota Pariamanan bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H. Pesta ini sudah ada sejak lama, sejak abad ke-19, diperkirakan muncul sekitar tahun 1826-1828 Masehi.

Lantas kenapa pesta ini meriah dan diminati banyak orang terutama kalangan muslim di Sumatera Barat dan daerah tetangga? Ini tak lain erat kaitannya dengan mengenang sejarah wafatnya Seidi Husain Cucu Nabi Muhammad Saw yang terjadi tanggal 10 Muharram dulunya dengan dikenal dengan Hari Asyura dan Tragedi Karbala.

Hari Asyura dan Tragedi Karbala

Advertisement
POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Hari Asyura atau 10 Muharram merupakan momen penting bagi umat Muslim. Salah satu peristiwa penting pada momen Asyura adalah konflik berdarah antara kelompok Yazid bin Muawiyah dan Husein bin Ali yang dikenal dengan Tragedi Karbala.

Pagi hari, usai Subuh, Husein yang berusia 58 tahun keluar dari tendanya. Dengan menunggangi kuda kesayangannya, ia berdiri menghadapi ribuan pasukan yang mengepungnya karena menolak baiat kepada Yazid bin Muawiyyah.

Ia berkata menyentuh hati:

“Lihatlah siapa aku. Putra dari putri Nabi kalian. Apakah halal membunuhku?”

Namun hati pasukan telah terkunci. Mereka tak peduli, tak tergerak. Pasukan berjumlah 4.000 orang yang dipimpin Umar bin Sa’d menyerang. Husein terluka parah. Pedang menghantam kepalanya, darah membasahi wajahnya. Ia merobek jubahnya, membalut luka, namun darah terus mengalir.

Editor : Marjeni Rokcalva
Sumber : Diolah dari Berbagai Sumber
BANNER 3
Bagikan

Berita Terkait
BANNER-4
Terkini