Asal Usul Tabuik Piaman, Mengenang Sejarah Wafatnya Seidina Husain Cucu Nabi

Dua Tabuik beradu jelang dibuang ke laut di Minggu (6/7/2025) di Pantai Gandoriah Kota Pariamanan bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H. Foto: Kominfo Kota Pariaman
Dua Tabuik beradu jelang dibuang ke laut di Minggu (6/7/2025) di Pantai Gandoriah Kota Pariamanan bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H. Foto: Kominfo Kota Pariaman
Ribuan orang sakikan hoyak Tabuik di Pariaman, Minggu (6/7/2025).
Ribuan orang sakikan hoyak Tabuik di Pariaman, Minggu (6/7/2025).

Ia haus, tetapi air sungai di hadapannya dijaga ketat. Bahkan seteguk pun tak diberi. Dalam keadaan lemah, Husein tetap berdiri, dikelilingi dan diserang dari segala arah. Sebuah tombak menembus tubuhnya, ia terjatuh.

Lalu, seorang prajurit bernama Sinan bin Anas memenggal lehernya. Kepala Husein dipisahkan dari jasadnya.

Kepala Husein dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad. Ia menyentuh wajah Husein dengan tongkat. Anas bin Malik yang menyaksikan berkata: “Demi Allah! Aku melihat Rasulullah mencium wajah ini. Dan kini kalian menyentuhnya dengan tongkat?” Tangis para sahabat pecah

Imam Jalaluddin as-Suyuthi menggambarkan tanda-tanda alam saat tragedi itu:

Terjadi gerhana matahari

Matahari meredup selama tujuh hari

Advertisement
POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Langit memerah selama enam bulan

Seolah alam pun ikut berduka atas wafatnya cucu Nabi Muhammad Saw

Bagaimana sikap ahlu sunnah wal jamaah menyikapi tragedi Karbala? Ulama Ahlussunnah mengajarkan:

Kata Imam Ghazali, jangan mencaci sahabat Nabi. Hargai ijtihad mereka meski ada yang keliru.

Editor : Marjeni Rokcalva
Sumber : Diolah dari Berbagai Sumber
BANNER 3
Bagikan

Berita Terkait
BANNER-4
Terkini