Makna Dari Manembak di Ateh Kudo

Foto Afrimanzo Wanda

Sang oportunis mungkin merasa "lamak" (nyaman) karena mendapatkan promosi atau tepuk tangan tanpa perlu mengucurkan keringat, namun tindakan itu jelas tidak "katuju" (disukai atau adil) bagi pihak yang haknya dirampas. Keserakahan semacam ini merusak tatanan sosial yang menjunjung tinggi keadilan distributif dan kesetaraan hak.

Advertisement
POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Dalam pepatah "manembak di ateh kudo" berfungsi sebagai lonceng peringatan spiritual dari para leluhur yang resonansinya tetap terdengar tajam hingga kini. Pesan moralnya amat gamblang: bahwa kehormatan sejati tak akan pernah bisa dibeli, diraih, atau ditegakkan di atas pilar-pilar kelelahan orang lain. Integritas dan harga diri seorang manusia diuji dari seberapa berani ia merangkak membangun fondasinya sendiri, seberapa jujur ia mengakui keterbatasan dirinya, dan seberapa tulus ia dalam memberikan kredit atau apresiasi terhadap pihak-pihak yang telah membuka jalan baginya. Hentikanlah tabiat memanipulasi situasi sekadar untuk memenuhi ego sesaat.

Sebab, seanggun apa pun sang penembak merayakan kemenangannya, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sadar betul bahwa kemenangan tersebut adalah fana. Berlarilah dengan kaki Anda sendiri, bangunlah narasi kesuksesan Anda dengan cucuran keringat Anda sendiri, dan jadilah pemenang sejati yang karyanya tak lekang dimakan zaman. (***)

BANNER 3
Bagikan

Opini lainnya
BANNER-4
Terkini