Harun Zain: Gubernur Sumbar di Kader Bung Hatta, Memakaikan Pituah Natsir Dibina Para Tokoh Minang

Ilustrasi
Ilustrasi

By: Dr. Hendri Ainsyah Koto, S.Pd, M.Pd., Alumni Sekolah Pascasarjana UNP

TULISAN ini penulis persembahkan sebagai ungkapan syukur saat memperingati hari ulang tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, yang ke-80, tepat 17 Agustus 2025. Merdekaaaa!

Saya sungguh beruntung, dapat mempelajari tulisan Engku Muhammad Sjfe’i tokoh yang membacakan teks proklamasi pertama di Sumatera sekaligus adalah Residen Sumatera Barat pertama (1945). Bergembira saya dapat membaca buku biografi Gubernur Muda Sumatera Tengah Dr. Mohammad Djamil Datuk Rang Kayo Tuo (1946), hampir setiap hari saya melintas di depan makamnya, biografi beliau ditulis oleh Sejarawan mumpuni asal Minangkabau Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, dkk, yang juga adalah pembimbing & penguji saya saat kuliah magister dan doktoral.

Lalu saya lanjut membaca buku biografi Mr. H. Sutan Mohammad Rasjid yang menjadi Residen Sumatera Barat tahun 1946-1947, Gubernur Militer Sumatera Barat mulai Januari-Mei 1949, dan Gubernur Militer Sumatera Tengah dari Mei-Oktober 1949. Terakhir, karena rasa ingin tahu juga, dalam rentang waktu yang bersamaan, saya membaca buku biografi Gubernur Sumatera Barat tahun 1966-1977 Prof. Drs. Harun Alrasjid Zain, S.E Datuak Sinaro (suku Piliang), Gubernur Sumatera Barat tahun 1977-1987 Ir. H. Azwar Anas Datuak Rajo Suleman, dan Gubernur Sumatera Barat tahun 1987-1997 Drs. Hasan Basri Durin Datuak Rangkayo Mulie Nan Kuniang. Pada masa tiga orang Gubernur ini, mulai dirintis, membangun fondasi, hingga meraih penghargaan dalam bidang pembangunan dari Presiden RI Soeharto, yaitu Parasamya Purnakarya Nugraha (1984) dan Prayojana Kriya Pata Parasamya (1992).

Advertisement
POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Saya tukik-kan kajian kepada Gubernur Harun Zain. Kenapa? alasan hanya sederhana: saya berpendapat bahwa peran beliau dalam mambangkik batang tarandam dan mambangun kampung halaman setelah peristiwa PRRI tahun 1958-1961. Sungguhpun usaha ini telah beliau rintis sejak masih dosen FE-UI dan “dosen terbang” Universitas Andalas (UNAND). Harun Zain kuliah di FE-UI. Harun Zain dan teman segenerasinya di FE-UI dikemudian hari terkenal dengan sebutan kelompok “mafia Berkeley”, sebutan untuk tokoh intelektual Indonesia di bidang ekonomi yang pernah kuliah di University of California, Berkeley di Amerika Serikat.

Saat Harun Zain menjadi mahasiswa FE-UI inilah, Emil Salim juga mahasiswa FE-UI. Emil Salim meminta kesedian Wakil Presiden RI, Bung Hatta, untuk memimpin berbagai dialog dan diskusi kelompok mahasiswa FE-UI yang beranggotakan 15 orang. Atas persetujuan Bung Hatta, pertemuan diadakan sekali dua minggu selama enam bulan di Istana Wakil Presiden. Para peserta pertemuan antara lain: Barli Halim, Suhadi, Sumarlin, Julianto, Wanda Mulia, Kwik Kuan Ciat, Emil Salim, Widjojo Nitisastro, Harun Zain, dan lain-lain. (Koesnadi Hardjasoemantri, dkk, 2000:64-67). Forum ini penulis sebut dengan istilah pendidikan kader ala Bung Hatta (Studie Club Bung Hatta).

Harun Zain mengisahkan pengalamannya saat menjadi anggota pendidikan kader dari Bung Hatta terhadap mereka yang tergabung dalam kelompok itu, termasuk Emil Salim. Ekonom Indonesia yang dikunjungi oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, awal tahun 2025. “Ternyata pengalaman pendidikan kader Bung Hatta ini dikemudian hari sangat bermanfaat bagi kami semua” tutur Harun Zain. Selanjutnya Harun Zain menjelaskan, bahwa dalam berbagai pertemuan tersebut, kami membahas berbagai soal: ekonomi, sosial maupun politik, yang didiskusikan secara bebas dengan mengemukakan argumen masing-masing.

Bung Hatta selama diskusi hanya mendengar, tidak memberi arahan, bahkan tidak melakukan interupsi saat kami berdebat. Baru pada akhir diskusi, Bung Hatta selama 10 menit memberi komentar, kritik, dan saran. Misalnya mengajarkan cara-cara berdialog, cara berdiskusi untuk menghindari dialog yang bertele-tele, serta menunjukan jalan keluar tentang masalah yang diperdebatkan. Cara Bung Hatta memimpin diskusi itu terbukti dikemudian hari sangat berguna untuk kami jadikan pedoman saat menjalankan karier. “Kami memang tergolong orang-orang yang beruntung mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Bung Hatta” tutur Harun Zain (Koesnadi Hardjosoemantri, 2000:65).

Disamping itu, sebagai mahasiswa FE-UI, Harun Zain juga dibimbing oleh dosen pakar ekonomi Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, ayah dari Presiden Prabowo Subianto. Pada tahun 1958, Harun Zain lulus menjadi Sarjana Ekonomi dari FE-UI. Kemudian beliau melanjutkan kuliah ke University of California, Berkeley di Amerika Serikat selama dua tahun (1959-1961). Setelah pulang dari Berkeley, Harun Zain singgah ke tempat Ayahnya yakni Prof. Sutan Muhammad Zain dan Kakak Harun Zain yakni Mr. Zairin Zain yang menjadi Duta Besar RI di Jerman, berkantor di Bonn. Setelah itu baru kembali ke Jakarta.

Editor : Abna Hidayati
BANNER 3
Bagikan

Berita Terkait
BANNER-4
Terkini